Jakarta, BBPPMPV BMTI — Melalui
semangat kolaborasi, BBPPMPV BMTI mengawali agenda kerja 2026 dengan
menyelenggarakan Rakor Program Upskilling
Reskilling Pendidik Tenaga Kependidikan
(PTK) Vokasi dan Penjaminan Mutu. Pertemuan ini menjadi wadah sinergi antara
ASN balai, 15 Dinas Pendidikan Provinsi di wilayah binaan, serta mitra dunia
usaha dan dunia industri (DUDI) yang akan menjadi pendamping teknis dalam
peningkatan kompetensi tenaga pendidik sepanjang tahun.
Rapat koordinasi ini bertujuan
memperkuat sinergi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan dunia
industri dalam meningkatkan kompetensi guru vokasi yang relevan dengan
kebutuhan dunia kerja serta standar industri, sekaligus mendukung implementasi Pembelajaran
Mendalam (Deep Learning) dalam
pendidikan vokasi.
Dr. Anwar Sidarta, S.Si.,
M.Si., selaku Kepala BBPPMPV BMTI, menekankan pentingnya keselarasan antara
kompetensi guru vokasi dengan dinamika dunia industri. Melalui program
peningkatan keterampilan yang terstruktur, ia berharap kualitas tenaga pendidik
di wilayah binaan meningkat secara signifikan. Strategi perluasan lokasi
pelatihan melalui Pusat Belajar menjadi langkah nyata BBPPMPV BMTI agar manfaat
program dapat menyentuh lebih banyak guru kejuruan dan mampu menjawab tantangan
zaman secara efektif.
“Program upskilling dan reskilling
PTK vokasi dirancang agar selaras dengan standar industri serta mampu menjawab
tantangan transformasi pembelajaran,” ujar Anwar.
Arah Strategis Pendidikan
Vokasi Nasional
Direktur Jenderal Pendidikan
Vokasi, Pendidikan Khusus, dan Pendidikan Layanan Khusus, Tatang Muttaqin,
S.Sos., M.Ed., Ph.D., secara resmi membuka rapat koordinasi dengan menekankan
urgensi penguatan vokasi nasional. Di bawah bendera Kemendikdasmen, beliau
menyatakan bahwa vokasi harus hadir sebagai solusi atas tantangan produktivitas
SDM Indonesia. Menurutnya, pendidikan vokasi yang berkarakter adalah instrumen
vital untuk mencetak generasi yang relevan dengan kebutuhan industri masa
depan.
Dalam paparannya, Dirjen
Vokasi PKPLK menguraikan sejumlah isu strategis, antara lain tantangan
produktivitas nasional, kebutuhan lapangan kerja masa depan, meningkatnya
permintaan terhadap sumber daya manusia dengan keahlian tinggi dan spesifik,
serta pergeseran sejumlah pekerjaan administratif akibat perkembangan
teknologi.
Ia menegaskan bahwa pendidikan
vokasi memiliki peran strategis dalam menjawab tantangan tersebut. Hingga saat
ini, tercatat 1.178 SMK Pusat Keunggulan (SMK PK) telah bekerja sama dengan 975
mitra industri, mengembangkan kompetensi di bidang STEM dan non-STEM. Selain
itu, implementasi Teaching Factory
(TEFA) telah diterapkan di 11.496 SMK atau sekitar 85 persen, melalui
pembelajaran berbasis produksi nyata yang relevan dengan teknologi dan industri
4.0.
Penguatan kemitraan dengan
dunia usaha dan dunia industri (DUDI) juga terus ditingkatkan melalui 8.223
kemitraan aktif, yang mendukung pelaksanaan magang dan sertifikasi. Di sisi
pengembangan pendidik, pemerintah telah melaksanakan pelatihan bagi 6.599 guru,
memfasilitasi 297 guru magang industri, serta mengembangkan roadmap
pelatihan melalui pola IN–ON–IN, Training
of Trainers (ToT), dan Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP).
Kebijakan Upskilling
Reskilling dan Penjaminan Mutu Tahun 2026
Agenda
rakor dilanjutkan dengan pemaparan kebijakan Program Upskilling dan Reskilling
PTK Vokasi serta Penjaminan Mutu BBPPMPV BMTI Tahun 2026, termasuk penjelasan
mengenai struktur anggaran kegiatan peningkatan kompetensi dan penjaminan mutu.
Paparan tersebut disampaikan oleh Kabag Tata Usaha BBPPMPV BMTI, Heri Sutanto,
S.Kom., M.Kes. Dalam pemaparannya, Heri menegaskan komitmen BBPPMPV BMTI untuk
memastikan seluruh program dilaksanakan secara terencana, akuntabel, dan
transparan, serta mampu memberikan dampak nyata terhadap peningkatan kualitas
pembelajaran vokasi di wilayah binaan.
Sinkronisasi Kebijakan Pusat dan Daerah
Pada
hari kedua, rakor difokuskan pada upaya sinkronisasi kebijakan antarunit dan
pemangku kepentingan. Sesi diawali dengan pemaparan mengenai ekosistem
pendidikan vokasi yang bermutu serta pemerataan akses pendidikan berkualitas
untuk semua, yang disampaikan oleh perwakilan dari Direktorat Jenderal
Pendidikan Vokasi, Pendidikan Khusus dan Pendidikan Layanan Khusus (PKPLK).
Paparan oleh Dr. Sulistio Mukti Cahyono, S.E., M.B.A.
dari Direktorat SMK
Mewakili Direktorat SMK, Dr.
Sulistio Mukti Cahyono, S.E., M.B.A., menguraikan peta jalan kebijakan
peningkatan kompetensi PTK serta penjaminan mutu pendidikan vokasi untuk tahun
2026. Penjelasan ini selaras dengan strategi yang dipaparkan oleh para Kepala
Bidang PTK/SMK dari Dinas Pendidikan Provinsi mitra, yang menekankan pada
implementasi rencana tindak lanjut pascapelatihan. Selain itu, ditekankan pula
pentingnya pelaksanaan pola magang mandiri yang dijalankan secara paralel di
tiap provinsi sebagai langkah penguatan kompetensi nyata bagi para peserta.
Diskusi Panel oleh Kabid PTK/SMK Diknas Provinsi Mitra
Diskusi
yang melibatkan Dinas Pendidikan Provinsi mitra BBPPMPV BMTI ini menegaskan
pentingnya sinergi pusat dan daerah dalam memastikan keberlanjutan program
peningkatan kompetensi PTK vokasi agar berdampak nyata di satuan pendidikan dan
dunia kerja.
Sesi
berikutnya menyoroti program kolaborasi mitra industri dalam pelatihan upskilling dan reskilling PTK vokasi tahun 2026. Kolaborasi ini dipandang sebagai
kunci dalam memastikan kesesuaian kompetensi guru dengan kebutuhan riil dunia
kerja. Rapat kemudian ditutup dengan finalisasi perangkat pelatihan serta
rencana pengadaan peralatan pendukung peningkatan kompetensi.
Melalui
rakor ini, BBPPMPV BMTI menegaskan perannya sebagai simpul strategis penguatan
mutu pendidikan vokasi nasional, dengan mendorong kolaborasi lintas sektor,
peningkatan kompetensi pendidik yang berkelanjutan, serta keselarasan kebijakan
pusat dan daerah demi terwujudnya sumber daya manusia Indonesia yang unggul dan
berdaya saing global.***(Penulis : Doni TP, Editor
: Herna).