Cimahi, BBPPMPV BMTI — Menguatkan partisipasi semesta mewujudkan pendidikan bermutu
untuk semua merupakan ajakan untuk mewujudkan pendidikan sebagai tanggung jawab
bersama. Menurut filosofi Ki Hajar Dewantara, Bapak Pandidikan Nasional (1990),
hal ini selaras dengan konsep Tri Pusat Pendidikan. Sebuah gagasan yang
mendorong keluarga, sekolah, dan masyarakat bergerak bersama secara harmonis
untuk menuntun kodrat anak untuk mencapai keselamatan dan kebahagiaan
setinggi-tingginya.
Ada hal penting yang diungkapkan oleh Ki Hajar Dewantara (2014) tentang Tri
Pusat Pendidikan. Tujuan pendidikan tidak mungkin tercapai hanya melalui satu
jalur. Lingkup keluarga merupakan pusat pendidikan terpenting yang menyediakan
pendidikan agama, budi pekerti, dan perilaku sosial. Perguruan (lingkungan
sekolah) merupakan balai wiyata yang memberikan ilmu pengetahuan dan pendidikan
keterampilan. Lingkup pemuda yang sekarang diperluas menjadi lingkungan alam
dan kemasyarakatan merupakan tempat sang anak berlatih membentuk karakter dan
kepribadian.
Ketiga lingkungan yang dikemukakan Ki Hajar Dewantara memiliki peran
penting. Keberhasilan pendidikan merupakan hal yang saling berkaitan antara
pendidikan di keluarga, sekolah, dan masyarakat. Keterkaitan dari ketiga
lingkungan tersebut sangat erat. Orang tua memiliki kewajiban mendidik anak di
lingkungan keluarga. Namun, keterbatasan orang tua dalam mendidik anak di rumah
menyebabkan proses pendidikan diserahkan kepada sekolah. Di pihak lain, masyarakat
memiliki peran menjadi fasilitator bagi anak untuk mengaktualisasikan
ketrampilan anak (Wiyani & Barnawi, 2012).
Lingkungan sekolah sendiri terdiri atas dua bagian, yaitu fisik dan nonfisik. Kedua bagian tersebut dipayungi dengan tata tertib yang berlaku bagi seluruh warga sekolah terutama guru, peserta didik, dan pegawai. Penataan suasana fisik maupun nonfisik mempunyai andil yang sangat penting. Suasana nonfisik menjadi lebih penting karena suasana nonfisik merupakan wahana pembudayaan internalisasi nilai-nilai luhur dari budaya kepada peserta didik terutama pembudayaan nilai Pancasila.

Lingkungan ketiga adalah masyarakat. Masyarakat memiliki peranan atau
pengaruh penting untuk mencapai tujuan pendidikan. Pembudayaan yang telah
diajarkan di lingkungan sekolah tidak boleh bertentangan dengan nilai yang
berkembang dalam masyarakat. Masyarakat dengan peradaban maju dan pendidikan
yang tinggi akan memliki kualitas pendidikan yang baik. Sebaliknya, masyarakat
yang pendidikannya rendah menciptakan
pendidikan yang kurang baik.
Global Parent Survey tahun 2018 merilis data yang menarik sekaligus
memprihatinkan bagi kita. Ternyata orang tua di Indonesia menduduki peringkat
kedua di dunia dalam hal menyerahkan seluruh urusan pengasuhan anak kepada
sekolah. Fenomena ini bisa menunjukkan pola pikir yang berubah di kalangan
orang tua. Tanggung jawab pendidikan dan pembentukan karakter anak lebih banyak
dibebankan pada institusi sekolah daripada kepada orang tua. Hal ini
menimbulkan pertanyaan penting. Apa yang menyebabkan perubahan ini dan
kemudian bagaimana dampaknya terhadap perkembangan anak?
Pola asuh pada zaman dulu lebih menekankan tentang adab, sopan santun, dan
kepatuhan. Hal ini diterapkan melalui komunikasi satu arah dari orang tua ke anak,
penanaman nilai moral yang ketat, dan pemberian sanksi atau ketegasan agar anak
tumbuh menjadi individu yang disiplin, menghargai orang lain, dan bermental
kuat. Pola asuh kuat dan dengan ketegasan tinggi membentuk karakter anak yang
patuh dan memiliki daya juang tinggi. Lingkungan masyarakat yang masih
menjunjung tinggi adat istiadat tata krama membuat karakter anak yang baik.
Pada era masa kini pola asuh mulai bergeser drastis. Orang tua sering menganggap sekolah sebagai tempat utama bahkan satu-satunya tempat "memperbaiki" anak. Seolah olah sekolah adalah tempat laundry yang bisa mencuci bersih semua noda perilaku, nilai, dan karakter. Padahal, menurutl Alfian Bahri dalam bukunya Andai Aku Menteri Penddiikan, ini adalah cara pandang yang keliru dan sangat berbahaya. "Sekolah bukan tempat laundry. Sekolah tidak bisa mencuci bersih anak-anak dari semua persoalan rumah." –Alfian Bahri

Seorang anak datang ke sekolah setiap hari, membawa harapan orang tua,
ekspektasi masyarakat, dan tumpukan nilai rapor sebagai ukuran keberhasilan, tetapi
saat dia pulang, tak ada ruang dialog, tak ada kehangatan orang tua, bahkan tak
ada contoh nyata dari rumah tentang bagaimana nilai-nilai yang ia pelajari
harus diterapkan. Di Tengah kesibukan zaman sekarang, orang tua mulai
kehilangan peran sebagai pendidik pertama dan utama. Anak diserahkan sepenuhnya
kepada sekolah untuk mempelajari karakter hingga pengetahuan. Ketika hasilnya
tidak sesuai dengan harapan, orang tua akan menyalahkan guru dan sistem yang
berjalan di sekolah.
Jika kita sebagai orang tua mau memahami sebenarnya banyak nilai penting
justru dibentuk bukan di sekolah, tetapi di meja makan, di ruang keluarga, bahkan di jalanan saat anak menyaksikan cara
orang tua memperlakukan orang lain. Nilai tidak hanya diajarkan, tetapi
dicontohkan dan contoh yang paling kuat datang dari rumah. Rasulullah Saw. bersabda,
"Tidak ada pemberian (warisan) seorang ayah untuk anaknya yang lebih utama
daripada pendidikan tata krama yang baik." (HR. Tirmidzi).
Ki Hadjar Dewantara, tokoh pendidikan yang visioner, pernah mengatakan,
“Pendidikan adalah menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak itu.”
Menuntun, bukan menyerahkan. Menyertai, bukan melepas. Pendidikan bukan proyek
satu pihak. Sekolah, keluarga, dan masyarakat adalah satu kesatuan ekosistem.
Jika salah satunya absen, pendidikan akan timpang. Ia bisa berjalan, tetapi
tidak akan jauh. Ia bisa tumbuh, tetapi tidak akan utuh. Jadi, bagaimana
mungkin kita mengharapkan anak bersikap sopan, jika sehari-hari mereka melihat
orang marah di jalanan, menghina di media sosial, atau mengeluh tentang guru di
depan mereka?
Pendidikan sejatinya adalah kerja bersama. Sekolah bukan pabrik. Anak bukan
produk. Anak adalah manusia utuh yang tumbuh lewat cinta, disiplin, dan
teladan. Hari ini, pendidikan tak hanya butuh kurikulum yang baik atau guru
yang berdedikasi, tetapi juga butuh rumah yang hidup. Butuh masyarakat yang
ikut menjadi taman bermain nilai. Butuh orang dewasa yang tak sekadar menyuruh,
tetapi juga bersedia ikut belajar. ***Penulis: Predi Arif Nugroho (Editor:
Yusup)
Penulis merupakan Guru SMKN 4 Sukoharjo, Juara 1 Lomba Menulis Artikel Populer BBPPMPV BMTI dalam rangka Hari Pendidikan Nasional Tahun 2026.