Kepala BBPPMPV BMTI bernyanyi bersama dengan seluruh peserta
Cimahi, BBPPMPV BMTI —
Upaya meningkatkan kualitas pendidikan vokasi terus dilakukan melalui penguatan
kompetensi guru sebagai ujung tombak pembelajaran di sekolah. Salah satunya
diwujudkan melalui Program Upskilling dan Reskilling bagi Pendidik dan Tenaga
Kependidikan Vokasi Batch 2 yang diselenggarakan oleh BBPPMPV Bidang Mesin dan
Teknik Industri (BMTI) pada 25 Februari hingga 15 Maret 2026.
Program ini menghadirkan 15
pelatihan strategis yang mencerminkan perkembangan teknologi industri masa
kini, mulai dari teknologi digital, manufaktur, konstruksi, energi terbarukan,
hingga otomotif. Kelima belas pelatihan tersebut meliputi Infrastruktur
Cloud dan Data Center, Desain Grafis Terintegrasi AI, BIM Pemodelan Arsitektur,
Smart Building berbasis KNX, Industrial Robotics, Perawatan dan Perakitan Mobil
Listrik, Engine Management System, Inventory Control Specialist, Desain Gambar
Manufaktur dengan CAD, Pemrograman Perangkat Bergerak (PPLG), GMAW Level 1,
Estimasi Biaya Konstruksi, Pengoperasian Instalasi Bahan Bakar Nabati,
Pemasangan dan Pembangunan Turbin, Generator, dan Transmisi Mekanik PLTMH,
serta Pengembangan PKK Berbasis Artificial Intelligence.
Salah satu pelatihan yang
diselenggarakan adalah Pelatihan Gas Metal Arc Welding (GMAW) Level 1,
yang bertujuan memperkuat kompetensi guru SMK di bidang teknik pengelasan agar
semakin selaras dengan kebutuhan industri manufaktur dan fabrikasi logam.
Kegiatan ini secara resmi
dibuka pada Senin, 2 Maret 2026 oleh Kepala BBPPMPV BMTI, Dr. Anwar Sidarta,
S.Si., M.Si., yang sekaligus memberikan motivasi kepada para peserta. Dalam sambutannya, ia menegaskan bahwa peningkatan
kompetensi guru merupakan kunci utama dalam memperkuat kualitas pendidikan
vokasi.
Kepala BBPPMPV BMTI memberikan motivasi kepada seluruh peserta
“Ketika guru terus belajar dan meningkatkan
kompetensinya, maka yang sesungguhnya sedang dibangun adalah masa depan
generasi muda. Guru vokasi harus menjadi pembelajar sepanjang hayat agar mampu
menyiapkan siswa menghadapi tantangan dunia kerja yang terus berubah,” ujarnya.
Pelatihan
ini dilaksanakan selama bulan Ramadan dengan sistem blended learning,
yaitu menggabungkan pembelajaran daring dan praktik langsung di bengkel
pelatihan. Secara keseluruhan kegiatan berlangsung selama 148 jam pelajaran,
terdiri dari 48 jam pembelajaran daring selama tiga hari pada 25–27 Februari
2026, dilanjutkan 100 jam praktik pelatihan di BBPPMPV BMTI, serta diakhiri
dengan Uji Kompetensi Keahlian (UKK) yang dijadwalkan berakhir pada 15 Maret
2026.
Pada tahap pembelajaran
daring, peserta mendapatkan penguatan literasi teknologi pembelajaran melalui
pemanfaatan Learning Management System (LMS) dan berbagai platform
digital yang mendukung proses belajar mengajar. Pendekatan ini menjadi penting
karena pendidikan vokasi saat ini tidak hanya menuntut penguasaan keterampilan
teknis, tetapi juga kemampuan memanfaatkan teknologi untuk menciptakan
pembelajaran yang lebih efektif, fleksibel, dan adaptif terhadap perkembangan
zaman.
Memasuki tahap praktik di
bengkel, peserta mengikuti pelatihan inti yang berfokus pada peningkatan
kompetensi dasar pengelasan menggunakan metode GMAW, salah satu proses
pengelasan yang banyak digunakan dalam industri manufaktur dan fabrikasi logam.
Kegiatan praktik ini dirancang untuk memberikan pengalaman belajar langsung di
lingkungan bengkel pelatihan sehingga peserta dapat memahami proses kerja
secara lebih nyata.
Melalui pelatihan ini, para
guru diharapkan mampu mentransformasikan kompetensi yang diperoleh ke dalam
pembelajaran di sekolah masing-masing. Pengalaman belajar selama pelatihan
diharapkan dapat memperkuat implementasi Teaching Factory di SMK, sehingga proses
pembelajaran di bengkel semakin mendekati praktik kerja di dunia industri.
Salah satu peserta presentasi materi GMAW level 1
Program
ini sekaligus menunjukkan komitmen BBPPMPV BMTI dalam memperkuat ekosistem
pendidikan vokasi di Indonesia. Dengan peningkatan kapasitas
guru yang berkelanjutan, diharapkan SMK mampu menghasilkan lulusan yang tidak
hanya terampil secara teknis, tetapi juga siap menghadapi tantangan industri
masa depan.
Kerja Kelompok inspeksi hasil lasan GMAW level 1
Pada akhirnya, peningkatan kompetensi guru bukan sekadar kegiatan pelatihan, melainkan investasi jangka panjang bagi kemajuan pendidikan vokasi dan pembangunan sumber daya manusia Indonesia yang unggul dan berdaya saing global.*** Penulis Doni TP